Loading...

Tour of Duty Kabiro Humas dan IP Kementan, Kuntoro Boga Andri

23:01 WIB | Friday, 13-April-2018 | Kontak Tani Sukses, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Tiara Dianing Tyas

 

 

“Menjadi Kepala Biro Humas dan Informasi Publik di Kementan merupakan amanah yang harus saya jalani. Dalam bekerja, saya tidak terlalu memikirkan masalah jabatan, materi dan pujian, namun bekerja dengan sungguh-sungguh. Niatnya bagaimana program  dan tugas yang diberikan institusi kepada saya bisa terselesaikan dengan baik."

 

 

 

Begitu ungkapan pertama, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri yang baru dilantik Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

 

Integritas yang dimiliki Pria kelahiran Banjarmasin 43 tahun silam ini mengantarkannya sampai ke Kantor Pusat Kementan di Ragunan, Jakarta. Boga (Begitu Panggilan akrabnya) tidak pernah membayangkan akan  dengan cepat sampai ke jenjang bergengsi itu. Pasalnya pada tahun 2016 silam, saat bertemu Sinar Tani dirinya masih menjabat  Kepala Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Sulawesi Barat, sebuah UPT Kementan di daerah baru.

 

Ketika ditanya wartawan Tabloid Sinar Tani mengenai obsesinya terhadap unit pelaksana teknis (UPT) yang  masih berstatus Loka, saat itu ia menjawab, dengan sekuat tenaga mencurahkan pikiran dan tenaga memperbaiki manajemen yang masih baru, memberikan semangat kepada para staf,  membangun team work dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membesarkan UPT Balitbangtan Kementan ini. Jernih payah itu tidak sia-sia, tidak lama kemudian, loka itu telah meningkat statusnya menjadi Balai Pengkajian (BPTP Sulbar).

 

Perjalanan Karir

 

Kisah itu perlu rasanya diungkap kembali, sehingga masyarakat bisa melihat perjalanan seorang Boga secara utuh. Alhamduilah, untuk menguak perjalanan karier dan tour of duty Boga itu, pekan lalu, suatu kehormatan bagi Tabloid Sinar Tani untuk bisa wawancara alumni IPB itu secara eksklusif.

 

Dalam wawancara itu, Boga bercerita, setelah lulus dari IPB pada 1998, ia diangkat menjadi CPNS pada 1999. Satu tahun berikutnya ia menjadi PNS Penata Muda di BPTP Jawa Timur.

 

Dalam perjalanan kariernya, ayah tiga anak ini menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 di Universitas di Jepang. Di Negeri Matahari terbit juga, ia bertemu dengan istrinya dan mendapatkan anak pertama sewaktu sama-sama menempuh studi. Lulus doktor pada usia 32 Tahun dan menjadi Peneliti Madya pada usia 35 tahun (2009). Delapan tahun kemudian Boga telah menjadi Peneliti Utama.

 

Pria yang gemar membaca, berkebun dan traveling ini menjalani tour of duty dimulai sebagai Koordinator Program BPTP Jawa Timur (Malang). Lalu mendapat amanah jabatan struktural sebagai Kepala Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Sulawesi Barat (Mamuju) tahun 2016.

 

Boga lalu dipindah sebagai Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau (Pekanbaru), Plt. Kepala BPTP Sumatra Utara (Medan). Selanjutnya Kepala Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) di Malang.

 

Namun, jabatan Fungsional Penelitinya tergolong cepat. Pertama kali memasukkan usulan fungsional setelah selesai sekolah S3. Boga langsung meloncat menjadi Peneliti Madya tanpa melewati peneliti Pertama dan Muda. Pada usia 42 sudah menjabat peneliti utama.

 

Ia mengakui perjalanan karirnya tergolong lancar. Apa kuncinya? Ternyata, Boga berusaha mengerjakan segala pekerjaan dan tanggung jawab  dengan cepat, mengerjakan perintah atasan dengan baik, berusaha memberikan hasil terbaik. “Bagi saya yang terpenting menganggap pekerjaan sebagai bagian dari passion dan hobi,” katanya.

 

Kumpulkan Arsip dan Data

 

Ada satu hal lagi yang cukup menarik dicermati, Boga adalah seorang peneliti yang sangat tekun dan komplit mengumpulkan arsip data dan informasi. Lebih tepat kalau kita sebut sebagai ahli dokumentasi. Pernah suatu ketika Sinar Tani meminta bahan-bahan untuk dipublikasikan, dengan sigap ia memberikan setumpuk dokumentasi dan berkata sambil bercanda, “Pak sepertinya bahan-bahan ini cukup untuk setahun," candanya. Begitu bentuk pelayanan yang diberikannya.

 

Bagi Boga, rekan-rekan media (publikasi) adalah bagian penting dari komponen pembangunan pertanian. Media massa bisa mempercepat  arus informasi dari pemerintah kepada  masyarakat dan mendorong partisipasi publik.

 

Dalam membangun citra institusi yang baik Boga menyatakan, sangat penting memberikan informasi dengan jelas, komplit dan sabar. Dengan demikian, apa yang dikerjakan pemerintah dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat.

 

Menurutnya, tugas utama humas adalah meningkatkan harkat dan  citra institusi. Hal tersebut dikerjakan dengan memberikan informasi positif kepada publik dan mengklarifikasi isu-isu negatif yang beredar. Selain itu menyampaikan rencana dan program, data dan informasi, capaian dan hasil yang diperoleh dari kerja selama ini. “Yang terpenting merespon atau menjawab pertanyaan publik terkait program-program Kementan,” katanya.

 

Bagi Boga, tantangan Biro Humas dan Informasi Publik adalah bisa menjawab secara cepat dan akurat  permintaan informasi terkait kinerja. “Itu perlu mengumpulkan data dan informasi dari berbagai sumber  secara cepat,” katanya.

 

Tantangan kedua, menurut Boga adalah bagaimana mempresentasikan secara baik kepada publik mengenai capaian kita. Itu juga terkait dengan dokumentasi data dan informasi. Untuk bisa memenuhi tantangan lebih berat, Boga menegaskan, humas harus diisi lebih banyak staf yang kreatif, dinamis dan responsif terhadap lingkungan yang dihadapi. “Alhamdulillah, kami disini dibantu tenaga-tenaga profesional, baik itu dari internal biro Humas sendiri, maupun dari Pusdatin dan unit kerja lainnya di Kementan,” katanya.

 

Lantas apa rencana pria yang menghabiskan masa kecilnya di Banjarmasin (Kalsel) dan Purwokerto (Jateng) ini dalam meningkatkan kinerja Biro Humas dan Informasi Publik? Boga mengatakan, dalam jangka pendek berkomunikasi dengan lebih baik kepada media. Bahkan ingin lebih mendorong Kementan sebagai media darling (disukai media), institusi yang memiliki citra positif dan kesan yang lebih baik di media dan publik.

 

Kemudian, lanjut Boga, dirinya berupaya memperderas arus informasi. “Kinerja Kementan ini kan luar biasa volume dan jangkauannya, tapi saya ingin informasi terkait kinerja itu lebih banyak diinformasikan dan sampai kepada publik,” katanya.

 

Baginya, jangan sampai kinerja Kementan yang sudah luar biasa seperti capaian swasembada beberapa komoditas, ekspor dan sumbangan devisa yang luar biasa,  mengatasi berbagai masalah pangan dan sebagainya tidak  dipahami masyarakat dengan benar. Baginya humas adalah saluran utama informasi dan wajah dari kementerian. “Performa kami di mata masyarakat sangat terkait dengan kinerja humas kami,” katanya.

 

Dalam kerjanya, Boga mengedepankan team work atau kerja tim. Bahkan Boga mengaku, jarang memutuskan sendiri, namun ingin mendengar dulu pendapat sekeliling, memanfaatkan pengalaman senior, informasi yang dimiliki rekan kerja serta tenaga ahli.

 

“Hidup saya selalu berpindah dari satu daerah dan lingkungan yang berbeda,  jadi saya terbiasa beradaptasi,” katanya. Beradaptasi itu menurut Boga, bukan kita yang mengikuti kebiasaan, melainkan harus melebur,  memahami masalah berdasarkan pengalaman tim.

 

“Jadi yang harus dilakukan pertama kali adalah mendengar dan melihat, apa masalah yang ada, mempelajari pengalaman, memberikan arahan dan berusaha mencari pemecahan masalah bersama,” paparnya.

 

Itu semua dirumuskan, lalu menjadi program kerja. Kemudian yang melaksanakan adalah seluruh anggota  tim, tugasnya sebagai pimpinan adalah menentukan tanggungjawab tim dan anggotanya, mendorong kinerja dan memonitor apakah tim yang melaksanakan program kerja itu sudah berjalan dengan baik.  TIM/Tia/Lis

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162