Loading...

Mentan Minta Prof. Riset Membumikan Hasil Risetnya

15:45 WIB | Monday, 09-April-2018 | Iptek, Teknologi | Penulis : Gesha

 

 

Inovasi teknologi tentunya hadir berkat adanya riset mendalam dari peneliti. Agar bisa semakin menghasilkan inovasi yang digunakan masyarakat tani, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman meminta Professor Riset untuk semakin membumikan hasil risetnya. 

 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian), M. Syakir ketika mewakili Menteri Pertanian, Amran Sulaiman dalam pengukuhan Professor Riset Balitbangtan, Senin (9/4). "Berbagai hasil penelitian Badan Litbang Pertanian menjadi ujung tombak  kita dalam memacu peningkatan produksi. Karena itu saya terus mendorong agar Balitbangtan  mengembangkan kegiatan penelitian yang hasilnya siap untuk kita implementasikan," tuturnya

M. Syakir menambahkan, Professor Riset yang dilantik hari ini memiliki latar belakang penelitian yang berbeda dan bisa menjadi sinergi yang baik untuk kemajuan pertanian. "Ketiganya berkaitan erat dengan dengan teknologi yang telah, sedang dan akan kita terapkan dalam program utama Kementan, terutama dalam mendukung Upsus Pajaleyang terus kita kembangkan," tuturnya. 

Adapun Profesor Riset Kementan yang baru dikukuhkan, yaitu Prof. Dr. Ir. Sahardi Mulia, MS dalam bidang budidaya tanaman, Prof. Dr. Ir. Hasil Sembiring, MSc dalam bidang hidrologi dan konservasi tanah, dan Prof. Dr. Ir. I Made Jana Mejaya, MSc dalam bidang pemuliaan dan genetika tanaman. 

"Kita ketahui bersama ketiga Profesor Riset tersebut telah berkiprah secara maksimum di posisinya masing-masing, mulai dari tingkat propinsi sampai nasional, dalam mensukseskan berbagai upaya peningkatan produksi pangan yang kita lakukan," ungkapnya. 

 

Implementasi Besar 

M. Syakir sangat berharap ketiga professor tersebut mampu memberikan implementasi besar dari hasil risetnya. Mulai dari Prof. Dr. Ir Made Jana Mejaya, diharapkan menjadi pelopor penggunaan benih jagung hibrida Balitbangtan oleh petani di lahan kering. “Melalui perbaikan menejemen penyediaan benih induk di Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) lingkup Balitbangtan dan program Desa Mandiri Benih, diharapkan harga benih F1 jagung hibrida menjadi lebih kompetitif,” ujarnya.  

Sementara Prof. Dr. Ir. Hasil Sembiring, MSc diharapkan segera merumuskan reinovasi teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) berdasarkan agro ekosistem. Sehingga PTT pola baru tidak saja berorientasi pada peningkatkan produktivitas, tapi juga meningkatkan pendapatan petani. “Konsep ini akan jadi dasar pengembangan Upsus Pajale  2018-2019,” ujar Kementan.

Hal yang sama juga disampaikan bagi Prof. Dr. Ir. Sahardi Mulia, MS untuk mewujudkan korporasi pertanian dengan menggabungkan teknologi budidaya padi tanam benih langsung (Tabela) super jajar legowo dengan teknologi lainnya. Wilayah proyek percontohan, lanjut Kementan, bisa dikembangkan di beberapa lokasi di Sulawesi.Gsh

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162