Loading...

e-paper Tabloid Sinar tani - Mengisi Ceruk Pasar Teh Premium

11:47 WIB | Tuesday, 06-March-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar tani  - Mengisi Ceruk Pasar Teh Premium

 

Di tengah maraknya pertumbuhan produk teh dalam negeri, baik dalam kemasan botol maupun celup, ternyata pasar teh Indonesia di luar negeri justru tengah redup tergeser produk negara lain seperti Kenya, Srilanka dan India. Namun jika jeli, ternyata ceruk pasar teh premium kualitas ekspor itu bisa mengisi pasar dalam negeri yang masih terbuka lebar.

 

Aroma khas teh berbalut wangi melati sangat terasa saat Tabloid Sinar Tani menghirup teh seduhan berlabel Authentic Jasmine Tea. Begitu juga ketika mencicipi teh berlabel Lemmongrass Green Tea, rasa teh dan serehnya cukup membuat segar badan.

Dua jenis teh tersebut merupakan produk Sila Tea House yang dinahkodai Iriana Ekasari. Meski masih produk rumahan, sebenarnya Sila Tea House telah memiliki 11 varian teh lainnya dengan berbagai sensasi rasa. Teh yang ditawarkan merupakan produk premium, ada jenis teh putih, teh hijau dan teh hitam. 

“Produk yang dibuat, semuanya berbahan baku teh berkualitas ekspor. Kita tidak memotong mata rantai yang sudah ada, tapi menjadi alternatif baru bagi produk teh kualitas ekspor kita,” tutur Iriana.

 

Alternatif Pasar

Di tengah produk teh Indonesia mulai kehilangan pasar ekspor, pengembangan teh premium di dalam negeri menjadi sebuah alternatif pasar baru. Apalagi kini pasar di luar negeri lebih menginginkan pasar teh dari Kenya. Khusus untuk Black Tea, kini dikuasai produk teh India dan Srilanka. Sedangkan Green Tea dikuasai China dan India.

Sebagai orang yang lama berkecimpung dengan industri teh, khususnya produk PT Perkebunan Nusantara (PTPN), Iriana melihat, peluang pasar teh premium di Indonesia cukup besar. Sayangnya, selama ini masyarakat Indonesia tidak pernah diperkenalkan teh kualitas ekspor tersebut. “Selama ini kita disajikan teh dengan kualitas paling rendah. Justru membaiknya daya beli masyarakat Indonesia diisi produk teh dari luar negeri,” sesalnya.

Karena itu, Iriana mengeluarkan branding teh melalui Sila Tea dan menjadi benchmark (penanda/pelopor) dalam industri teh yang memiliki segmentasi premium tea, bahkan super premium tea. “Segmen inilah yang jika berhasil akan mampu menarik kereta dari industri teh Indonesia. Selain itu, teh kualitas ekspor kita juga bisa punya alternatif pasar di dalam negeri sehingga tidak tergantung sekali pada pasar ekspor,” tutur alumni Teknologi Benih IPB itu.

Iriana berharap jika segmen premium ini mampu dilayani dengan baik, maka animo masyarakat juga akan naik. Secara tidak langsung beralih ke teh yang kualitasnya lebih baik. Kondisi tersebut nantinya juga akan menggerakkan sektor hulu di petani. “Karena harga teh cukup baik, petani pun terdorong memproduksi teh kualitas yang baik sesuai permintaan pasar,” ujarnya.

Iriana mengambil contoh sukses industri kopi yang memungkinkan diterapkan dalam industri teh. Dahulu kopi di pasaran memiliki rasa yang tidak karuan lantaran biji kopi yang dihasilkan petani bukan yang terbaik. Namun kini dengan adanya specialty coffee, banyak berkembangnya kafe/kedai yang menyajikan bean coffee premium. Kondisi itu kemudian mendorong petani menghasilkan kopi terbaiknya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162