Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Melon Indonesia Lebih Sehat

13:50 WIB | Tuesday, 20-March-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Melon Indonesia Lebih Sehat

 

Kasus buah rock melon yang menyebabkan kematian empat orang di Australia cukup mengagetkan dunia. Disinyalir buah tersebut terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes. Bakteri yang bersifat patogen (menyebabkan penyakit), bahkan hingga kematian.

 

Kasus buah yang terkonta­minasi bakteri tersebut pernah terjadi awal tahun 2016 lalu. Saat itu terjadi pada buah Apel dari Amerika Serikat. Saat kejadian itu, Pemerintah Indonesia dengan seketika menutup rapat impor Apel dari Negeri Paman Sam.

 

Begitu juga saat terdengar kabar kasus rock melon di Negeri Kangguru, Australia, Pemerintah Indonesia lantas mengeluarkan perboden larangan masuk buah tersebut. Sesuai Surat Agriculture Counsellor Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 3 Maret 2018 tentang kasus buah rock melon, Kementerian Pertanian menindaklanjuti de­ngan menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian No. 207/Kpts/KR.040/3/2018 tentang penutupan pemasukan rock melon (cantaloupe) dari negara Australia ke dalam wilayah republik indonesia. 

Kepala Badan Karantina Perta­nian, Banun Harpini mengatakan, keluarnya Keputusan Mentan itu sebagai bentuk perlindungan terhadap konsumen di Indonesia dan antisipasi terjadinya kejadian yang sama. “Pada dasarnya buah rock melon asal Australia ini belum pernah masuk ke Indonesia,” katanya. 

Namun demikian Banun mene­gaskan, pihaknya tetap mewas­padai dan melakukan pengawasan terhadap pemasukan buah impor secara intensif baik yang melalui bandara, pelabuhan dan perbatasan negara. “Kami akan menggerakkan seluruh ke­mampuan, baik operasional peng­awasan di lapangan mau­pun laboratorium pengujian. Labo­ratorium kita siap menguji bila diperlukan pengujian,” tegasnya.

Bukan hanya itu, petugas karantina akan melakukan peno­lakan dan pemusnahan di tempat jika dijumpai pemasukan buah melon eks impor ini yang masuk melalui negara tetangga Singapura dan Malaysia. Karena itu Banun mengharapkan kerjasama dan peran masyarakat berbagi infor­masi dan tidak membawa buah tersebut masuk ke wilayah Indonesia, baik berupa buah utuh maupun potongan buah.

 

Pelajaran Berharga

Ada sebuah pelajaran berharga dari kasus tersebut, ternyata buah dalam negeri lebih aman dan sehat ketimbang buah impor. Buah nusantara juga memiliki kelebihan, termasuk dari sisi keeksotikannya. Beberapa jenis buah termasuk sangat eksotik, seperti manggis dan salak. Sedangkan yang sudah menembus pasar ekspor antara lainnya nanas, mangga, manggis, salak, melon, semangka, rambutan dan alpukat. 

Khusus melon, catatan Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian, luas panen pertanaman melon pada tahun 2017 diper­kirakan mencapai 6.426 ha dengan produksi 89.197 ton dan produktivitas 13,88 ton/ha. Volume ekspor melon pada tahun yang sama sebanyak 414.681 kg dengan nilainya 456.420 dolar AS. Negara tujuan ekspor yakni, Jepang, Hongkong, Thailand, Singapura, Malaysia, Brunei, Saudi Arabia, UEA, Kuwait, Oman, Qatar, Bahrain dan Timor Leste.

Direktur Tanaman Buah dan Florikultura, Sarwo Edhy mengatakan, melon merupakan tanaman buah semusim yang berasal dari lembah Persia, Mediterania. Mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 1970. Pada masa itu melon menjadi buah untuk masyarakat kelas menengah atas. “Pengembangan melon di Indonesia sebagian besar dilakukan swadaya dan sebagian pemerintah,” ujarnya. 

Sarwo Edhy mengatakan, sampai saat ini pengembangan melon yang difasilitasi Direktorat Jenderal Hortikultura mencapai 599 ha. Daerah sentra pengembangan melon tersebar di Ngawi, Madiun, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Tangerang, Serang, dan Cilegon.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162