Loading...

e-paper Tabloid Sinar tani - SNI Pupuk, Dongkrak Daya Saing Industri

14:33 WIB | Wednesday, 28-February-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar tani  - SNI Pupuk, Dongkrak Daya Saing Industri 

 

Pertengahan November tahun lalu, Badan Standardisasi Nasional (BSN) memberikan penghargaan SNI Award kepada perusahaan di Indonesia, baik yang berplat hitam (swasta) maupun merah (BUMN). Salah satu penerimanya adalah PT. Pupuk Kaltim yang mendapatkan penghargaan Platinum untuk kategori Perusahaan Menengah Besar.

 

Bagi perusahaan pelat merah penghasil penyu­bur tanaman itu, raihan penghargaan Platinum Tahun 2017 dalam ajang SNI Award merupakan kedua kalinya. Kepala BSN, Bambang Prasetya menganggap, penerapan SNI sangat penting untuk membangun produk nasional dengan kualitas global. “Kami mendorong pro­dusen agar terus meningkatkan kualitas produksinya setara dengan permintaan pasar global,” ujarnya.

 

Untuk industri pupuk, sejak 2014, Pemerintah memang telah memberlakukan SNI wajib pada pupuk anorganik majemuk maupun tunggal. Pemerintah berharap adanya SNI tersebut menjadi jaminan akan mutu dan komposisi pupuk. Apalagi sebagai sarana produksi tani, keberadaan pupuk bagi petani sangat penting. Di sisi lain, keberadaan SNI juga penting bagi produsen/industri pupuk untuk meningkatkan daya saing.

Direktur Pupuk dan Pestisida, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Muhrizal Sarwani mengatakan, idealnya semua produk pupuk harusnya ber-SNI. Namun memang belum seluruhnya wajib memenuhi SNI. “Harapan kami, semua pupuk yang diproduksi industri pupuk ber-SNI semua. SNI itu sangat penting untuk peningkatan daya saing industri pupuk dan dalam rangka perlindungan konsumen,” ujarnya.

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian, Muhammad Khayam dalam siaran rilis yang diterima Tabloid Sinar Tani mengatakan, pemberlakuan SNI selain meningkatkan kualitas, juga dalam rangka meningkatkan daya saing industri pupuk. “Semua pupuk anorganik majemuk wajib ber-SNI dan pupuk tersebut diperdagangkan serta diedarkan di dalam negeri. Jadi baik, pupuk tersebut berasal dari hasil produksi dalam negeri atau impor, selama diedarkan dalam negeri harus memiliki label SNI,” tegasnya.

Menurutnya, pupuk yang beredar tanpa standar yang jelas tentu saja merugikan petani. Karena itu SNI sebagai entry barier. Apalagi diakui, pupuk impor yang masuk ke Indonesia banyak yang belum ber-SNI. “Dengan adanya SNI, jaminan mutu dan komposisi dari pupuk anorganik akan lebih tepat dan sesuai,” katanya.

 

SNI Wajib

Keputusan wajib SNI pupuk tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 8/2014 tentang pemberlakukan SNI Pupuk Anorganik Majemuk Secara Wajib yang ditandatangani Menteri Perindustrian. Dalam Pasal 2 menyebutkan, pemberlakuan secara wajib SNI pupuk anorganik dilakukan pada jenis produk pupuk NPK Padat dengan nomor SNI 2803-2012. 

Adapun produk tersebut ditetapkan dengan post tariff HS No. 3105.20.00.00. Pemberlakuan secara wajib ini berlaku bagi pupuk anorganik majemuk dalam kemasan maupun curah.

Dalam SNI 2803: 2012 tersebut juga menetapkan syarat mutu dan metode pengujian pupuk anorganik NPK padat. Pengertian pupuk NPK padat adalah pupuk anorganik majemuk buatan berbentuk padat yang mengandung unsur hara makro utama nitrogen, fosfor dan kalium, serta dapat diperkaya dengan unsur hara mikro lainnya. Dalam SNI ini juga diatur spesifikasi syarat mutu diantaranya kandungan nitrogen, fosfor, kalium, kadar air dan sebagainya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162