Loading...

Siaga Penyakit Zoonosis

05:55 WIB | Thursday, 04-September-2014 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Wabah Ebola, yang menyebar dari Guinea ke Liberia, Sierra Leone dan Nigeria dan menewaskan sedikitnya 1.145 orang membuat dunia panik. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan status wabah tersebut sebagai  Darurat Kesehatan Internasional.

 

WHO juga menyerukan peme­riksaan kesehatan untuk semua penumpang pesawat dari negara-negara yang terdampak. Wabah Ebola di Afrika Barat yang terjadi belakangan ini merupakan terburuk di dunia. Lebih ditakutkan lagi, ternyata penyakit tersebut belum ada obatnya.

Menyikapi isu penyakit hewan yang bersifat pandemi (mendunia) dan bergerak dari satu negara ke negara lain (transboundary disease), pada pertemuan global  tentang penyakit  infeksi yang dihadiri 182 peserta  perwakilan dari 37 negara dan organisasi internasional, di Jakarta, beberapa waktu lalu, persoalan seputar  penyakit zoonosis menjadi topik pembicaraan serius.

Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, usai pertemuan yang menjadi bagian dari pelaksanaan Agenda Ketahanan Kesehatan global (Global Health Security Agenda) menjelaskan, fokus pertemuan kali ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi resiko wabah zoonosis. Pengalaman-pengalaman berharga menghadapi masalah zoonosis dari berbagai negara telah disampaikan dan didiskusikan bersama.  

Antara lain terungkap bahwa terjadinya peningkatan penyakit  menular baru di beberapa negara disebabkan berbagai faktor. Misalnya, perubahan iklim global, penggunaan pestisida dan anti mikroba, peningkatan kontak antara manusia dan hewan serta perubahan gaya hidup.

Dari pertemuan internasional itu, dicapai kesepakatan  untuk meningkatkan solidaritas antar negara untuk mencegah tidak hanya jumlah pasien dan kematian di negara masing-masing, tetapi juga mengupayakan agar penyakit tak  menyebar ke negara lain. Dibahas juga bagaimana mendeteksi penyakit secara cepat, serta melakukan upaya penanggulangan dan pencegahan secara bersama-sama.

Satu hal lain yang disorot tajam adalah pentingnya mengupayakan penggunaan antibiotik pada ternak secara bijaksana. Saat ini jumlah antibiotik yang sudah tidak resisten cenderung terus bertambah akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional. “Sehubungan dengan itu para peserta sepakat membuat action plan bagaimana bisa mengurangi penggunaan antibiotik pada hewan dan manusia,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162