Loading...

Peluang Usaha Perbenihan dan Perbibitan Terbuka Luas

15:39 WIB | Tuesday, 20-February-2018 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Ketua Umum MPPI, Herman Khaeron (dua dari kanan) saat Penandatangan MoU dengan perguruan tinggi dalam acara MPPI Goes to Campus

 

 

Dunia usaha perbenihan dan perbibitan terbuka luas, mulai usaha perakitan varietas unggul baru, produksi benih, dan usaha perdagangan benih. Namun harus ada sinergi antara lembaga penelitian, termasuk perguruan tinggi dengan pelaku usaha.

 

Demikian diungkapkan Ketua Umum Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia (MPPI), Herman Khaeron, saat acara Goes to Campus di Universitas Padjajaran, Sumedang, beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) kerjasama antar breeder dengan pelaku bisnis atau industri bisnis. 

 

Dengan kegiatan Goes to Campus, Herman berharap menjadi pemicu kerjasama dunia usaha perbenihan dan perbibitan dengan Perguruan Tinggi yang didasari pada filosofi sunda Silih Asah, silih Asih, dan Silih Asuh. "Setelah acara ini selesai semoga dapat segera disusun rencana bersama kegiatan bisnis perbenihan dan capacity building dalam bentuk pelatihan maupun pendidikan,” tuturnya.

 

Terkait anggaran riset, Herman meminta kepada Kementrian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Ristek dan PT) untuk meningkatkan anggaran, khususnya bidang perbenihan dan perbibitan. Sementara itu, kampus akan melengkapi dan mendukung dalam pencetakan varietas unggul baru.

 

“Perguruan tinggi juga sangat diharapkan perannya oleh dunia usaha perbenihan sebagai wahana capacity building, baik bagi breeder, produsen benih, penangkar benih, maupun masyarakat pengguna benih/bibit,” katanya.

 

Sementara itu Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Ristek dan PT, Muhammad Dimyati  mengatakan, untuk kegiatan riset, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 30,8 triliun. Anggaran itu untuk riset, mulai dari mengumpulkan data hingga report sebanyak Rp 10,9 triliun dan sisanya untuk pelatihan dan sebagainya.

 

“Dengan anggaran Rp 10,9 triliun masih harus dibagi-bagi lagi kebanyak lembaga litbang di Indonesia yang melakukan penelitian. Sayangnya penelitiannya tidak ada benang merah antara satu sama lain,” tuturnya.

 

Hal itu terjadi menurut Dimyati, karena tidak ada instrumen untuk mengkoordinasikan. Karena itu, pihaknya berupaya menyusun satu instrumen yang bisa dimanfaatkan untuk membuat lembaga-lembaga litbang dan perguruan tinggi agar memiliki benang merah menuju ke satu titik.

 

“Kami membuat dokumen yang disepakati seluruh pihak, tidak hanya perguruan tinggi dan lembaga litbang. Namun juga seluruh asosiasinya, kami ajak berdiskusi dan membentuk Rencana Induk Riset Nasional 2015 – 2045,” tuturnya.

 

Dalam Rencana Induk Riset Nasional 2015-2045 terbagi dalam empat fokus yaitu teknologi pemuliaan bibit tanaman, teknologi budidaya pemanfaatan lahan sub optimal, teknologi pasca panen dan teknologi ketahanan dan kemandirian pangan. “Empat fokus tersebut akan dilakukan sampai periode tertentu yang tertuang dalam rencana induk itu,” katanya.

 

Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi juga telah menyiapkan skema pengabdian masyarakat untuk menyampaikan langsung ke masyarakat dan diseminasi teknologi tepat guna untuk mengawal hasil penelitian kepada masyarakat. Hal tersebut membutuhkan sinergitas antara perguruan tinggi dan pelaku usaha menjadi kata kunci, agar salah satu masalah di kalangan peneliti bisa tersolusikan.

 

Wakil Sekretaris Jendral I Dewan Pengurus MPPI, Akhmad Riyadi W mengatakan, MPPI menjadi salah satu jembatan bagi peneliti menyebarluaskan hasil penelitian ke masyarakat melalui upaya mengsinergikan antara perguruan tinggi dengan pelaku usaha. Bisa saja perguruan tinggi menghasilkan produk benih, lalu pelaku bisnis yang mengintegrasikan untuk dipasarkan.

 

“Bisa jadi kerjasama dalam bentuk hak cipta atau operasional, sehingga antara perguruan tinggi dan pelaku bisnis bisa saling menguntungkan,” katanya. Yusrina

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162