Loading...

Neraca Perdagangan Pertanian Surplus

22:39 WIB | Saturday, 23-September-2017 | Nasional | Penulis : Julianto

Kinerja perdagangan komoditas pertanian yang terlihat dari neraca atau selisih nilai ekspor dengan impor mengalami surplus. Artinya, kebijakan yang pemerintah ambil saat ini sudah sesuai jalurnya.

 

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan Data BPS, nilai ekspor komoditas pertanian bulan Januari hingga Agustus 2017 mencapai 22,18 miliar dolar AS. Sedangkan nilai impor hanya 11,20 miliar dolar AS, sehingga surplus 10,98 miliar dolar AS.  Surplusnya ini naik 101% dibandingkan periode yang sama di tahun 2016 yang hanya surplus 5,46 miliar dolar AS.

 

“Dengan data ini, kebijakan pengendalian rekomendasi impor dan mendorong ekspor sudah on the right track dalam meningkatkan ekspor dan menurunkan impor. Ekspor kopi, karet, kelapa sawit, kelapa, pala, lada, kacang hijau, nanas, dan lainnya naik signifikan,”  kata Suwandi di Jakarta, Sabtu (23/9).

 

Suwandi menegaskan, sejak Januari 2016 hingga Agustus 2017 tidak ada impor beras medium, cabai segar dan bawang merah konsumsi. Kementan pun berhasil meningkatkan produksi jagung sehingga impor jagung di tahun 2016 turun 62 persen dan sejak Januari hingga Agustus 2017 ini tidak ada impor jagung pakan ternak.

 

“Perlu dicermati, adapun impor beras di awal tahun 2016 kemarin merupakan luncuran dari sebagian kontrak impor beras BULOG tahun 2015. Kemudian di tahun 2017, yang diimpor bukanlah beras konsumsi jenis medium, akan tetapi merupakan jenis menir sebagai bahan industri,” tutur dia.

 

Suwandi menilai, ini membuktikan sejak 2016 sudah swasembada beras karena konsumsi beras 100% dari produksi sendiri dan tidak ada impor beras medium yang dikonsumsi masyakarat luas. Sesuai data BPS, impor beras Januari hingga Agustus 2017 sebesar 191 ribu ton. Impor tersebut bukan beras medium, tetapi beras pecah 100% (menir) sebesar 187 ribu ton dan sisanya berupa benih dan beras termasuk beras khusus.  

 

Menurut Suwandi ekspor-impor beras khusus jenis tertentu ini wajar dalam perdagangan dunia karena tidak diproduksi di dalam negeri. Indonesia pun juga sudah ekspor beras merah, beras hitam, beras organik dan lainnya.

 

Sementara itu, sambungnya, jagung yang diimpor di tahun 2017 sebesar 290 ribu ton ini bukan merupakan jagung pipil untuk kebutuhan pakan ternak. Akan tetapi merupakan jagung untuk bahan pemanis sweetener dan gluten  pada industri makanan dan minuman. Artinya sudah swasembada jagung karena seluruh kebutuhan jagung pakan ternak sudah diproduksi sendiri.Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162