Loading...

Mewaspadai Penyakit Zoonosis

15:05 WIB | Monday, 01-September-2014 | Mentan Menyapa, Editorial | Penulis : Julianto

Pembaca. Petani di mana pun Anda berada. Penyakit zoonosis adalah penyakit hewan yang secara alami dapat menular ke manusia atau sebaliknya. Sumber penularan penyakit ini melalui tanah, air, hewan invertebrata, bangkai hewan, kotoran dan tanaman yang membusuk. Beberapa tahun belakangan ini, muncul emerging dan re-emerging zoonoses yang mengkhawatirkan. Kemunculan penyakit-penyakit zoonosis tersebut dipicu oleh iklim, faktor kepadatan populasi yang mempengaruhi induk semang, patogen atau vektor serta perubahan habitat hidup hewan. Seperti rabies, anthrax, avian influenza, salmonellosis, brucellosis, mers cov dan terakhir ebola adalah penyakit zoonosis yang masuk ke dalam daftar penyakit hewan menular strategis di Indonesia. Saat ini Kementerian Pertanian menetapkan 25 penyakit hewan strategis dan 17 di antaranya bersifat zoonosis dan 8 (delapan) non-zoonosis.

 

Penyakit zoonosis ini dapat menyebabkan kesakitan dan kematian hewan atau ternak. Sehingga bisa berdampak pada pasokan ternak atau daging untuk konsumsi dan menjadi penghambat negara kita untuk melakukan ekspor hewan maupun produk hewan ke luar negeri. Karenanya, Kementerian Pertanian berupaya maksimal untuk mencegah penyebaran atau masuknya penyakit tersebut.

 

Seperti, Kementerian Pertanian melakukan survei terhadap gejala klinis. Awalnya baru Avian Influenza (AI), alhamdulillah, sekarang sudah dikembangkan ke penyakit zoonosis lain. Ada sistem monitoring virus flu burung (AI/avian influenza) pada unggas secara online atau Influenza Virus Monitoring Online (IVM Online) yang bekerjasama dengan FAO. IVM Online ini adalah sistem untuk memonitor sifat antigenik dan genetik dari virus AI khususnya highly pathogenic avian influenza (HPAI) pada unggas di Indonesia yang terintegrasi secara online. Dengan demikian perkembangan jenis virus HPAI di seluruh penjuru Indonesia dapat dimonitor. Hal ini sangat penting untuk menentukan strategi pengendalian dan pemberantasan AI yang cepat dan akurat.

 

Selain itu, sistem kesehatan hewan secara online, yang awalnya berlaku di empat provinsi, kini sudah ada lagi di 13 provinsi lain yang mewakili regional Indonesia. Apabila ada kasus di daerah tertentu, langsung bisa dilaporkan. Melalui sistem itu, kita tahu mutasinya seberapa jauh, berada di grip mana, sampai apakah diperlukan vaksin baru. Meski begitu, upaya untuk mengawasi penyakit hewan di lapangan juga tetap dilakukan. Dengan demikian, bisa diketahui bagaimana cara pencegahan dan penanganannya lebih lanjut. Termasuk penutupan terhadap produk-produk dari negara tersebut.

 

Upaya lainnya yaitu memperluas kolaborasi dan komunikasi antara kesehatan hewan, kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet) dengan kesehatan manusia (kesehatan masyarakat) serta semua pihak yang terlibat dalam pengendalian zoonosis dalam rangka meningkatkan upaya pengendalian secara komprehensif, efektif dan efisien. Ini wujud dari komitmen kami dalam pencegahan dan pengendalian zoonosis,  khususnya di dua sektor utama yaitu kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan.

 

Sejauh ini, alhamdulillah, Indonesia selama 2011 hingga 2013 telah berhasil mengurangi kejadian 6 jenis penyakit zoonosis yakni rabies, flu burung, Antrax, Leptospirosis, Plague dan Brucellosis.

 

Belum lama ini setelah menghadapi penyebaran flu burung (H7N9 influenza) dan MERS CoV, dunia saat ini sedang menghadapi wabah Virus Ebola yang berasal dari kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinea, Liberia, Sierra Leone dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai Status Darurat Kesehatan Internasional oleh World Health Organization (WHO) pada 7 Agustus 2014.

 

Alhamdulillah, terkait dengan wabah yang ebola ini, Indonesia tidak termasuk dalam negara rawan tertular ebola. Kecilnya kemungkinan penularan ebola di Indonesia karena kita tidak memiliki penerbangan langsung ke negara-negara terkena wabah. Selain itu, negara-negara tersebut sudah dalam pengawasan WHO, pintu ke luar dicekal. Meskipun begitu kita tetap waspada dan selalu mengikuti perkembangan yang ada serta melakukan koordinasi agar negara-negara melakukan pengawasan di pintu keluarnya dan melakukan cegah tangkal di pintu masuk.

 

Pembaca, penyakit zoonosis ini merupakan penyakit yang harus ditangani secara lintas sektoral seperti dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas-dinas Kesehatan di Pemerintahan Provinsi dan Kota/Kabupaten. Yang terintegrasi dalam program utama, dimulai dari pengendalian zoonosis yang menyerang hewannya, pencegahan penularan zoonosis dari hewan ke manusia serta penanganan zoonosis di manusia. Agar terputus mata rantai penularan zoonosis dari hewan ke manusia dan juga komunikasi, informasi serta edukasi masyarakat tentang zoonosis yang berjalan sebagaimana mestinya.

 

Tidak hanya dengan tindakan pencegahan melalui deteksi dini dengan surveilans rutin setiap enam bulan. Dengan dunia internasional, Indonesia bersama 37 negara berkomitmen untuk memperkuat ketahanan global terhadap ancaman penyakit menular ini. Melalui Global Meeting on Infectious Diseases di Jakarta beberapa waktu lalu (bulan Agustus 2014). Pertemuan ini dihadiri delegasi dari Argentina, Australia, Azerbaijan, Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Kanada, China, Mesir, Finlandia, Prancis, Georgia, Jerman, Italia, Jepang, Kenya, Malaysia, Nepal, Belanda, Norwegia, Oman, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan dan Spanyol. Melalui pertemuan ini disusun kerjasama penanganan penyakit menular antar negara untuk minimal lima tahun ke depan, sehingga apabila ada wabah dapat segera menanganinya sejak dini sebelum memburuk.

 

Saya mengharapkan pencegahan dan pengendalian zoonosis ini didukung penuh melalui kolaborasi dari berbagai pemangku pemerintah. Tidak saja menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi sangat memerlukan peran sektor swasta, akademisi, praktisi, organisasi profesi dan sebagainya. Sehingga kita akan memiliki kemampuan dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah dan merespons wabah penyakit secara efektif serta tepat.

 

Selain itu, saya juga mengharapkan agar kita memerhatikan pola makanan kita. Pola makan yang baik dapat membantu ketahanan tubuh terhadap infeksi virus. Dan selalu menjalani perilaku hidup bersih serta sehat. Insya Allah, kesehatan kita akan terjaga dari penyebaran penyakit zoonosis.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162