Loading...

Jalan Panjang Swasembada Gula

16:24 WIB | Sunday, 11-January-2015 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Pemerintahan Joko Widodo kembali mengibarkan bendera swasembada gula tahun 2018. Menengok ke belakang, pemerintah sebenarnya telah mencanangkan sejak 2002. Namun upaya tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan.

 

Produksi si manis dari tahun ke tahun tak pernah stabil. Selama perjalanan hingga kini produksi gula tertinggi hanya menembus angka 2,7 juta ton pada tahun 2008. Sejak itu produksinya terjun bebas hingga pada tahun 2011 hanya 2,23 juta ton. Pada tahun 2012 naik kembali menjadi 2,59 juta ton, tapi tahun lalu kembali turun menjadi 2,55 juta ton. 

Padahal total kebutuhan gula nasional, baik untuk konsumsi maupun industri mencapai 5,7 juta ton. Dari jumlah tersebut, berdasarkan data Dewan Gula Indonesia, kebutuhan rumah tangga diperkirakan 1.609.780 ton, kebutuhan khusus (rapat, warung, rumah makan) sekitar 531.625 ton dan konsumsi industri rumah tangga sekitar 288.171 ton. Artinya total kebutuhan konsumsi langsung sekitar 2.429.576 ton. 

Kerap menemui batu san­dungan dalam mendongkrak pro­duksi gula, pemerintah lalu mengubah arah kebijakan swa­sembada gula. Pemenuhan kebu­tuhan gula nasional akhirnya hanya fokus untuk gula konsumsi yang hanya sekitar 2,68 juta ton.

 

Masalah Klasik

Masalah  klasik  yang  hingga kini sering dihadapi adalah rendahnya produktivitas tebu dan rendemen gula. Rata-rata produktivitas tebu nasional hanya 72 ton/ha dengan rendemen 7,69%. Produktivitas masih di bawah potensinya 120 ton/ha dan rendemen gula di atas 9%.

Menurut Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Gamal Nasir, pemerintah telah membuat desain pencapaian swasembada gula. Setidaknya ada empat langkah utama yakni perluasan areal tanam tebu dengan tambahan lahan 500-600 ribu hektar (ha), revitalisasi pabrik gula, pembangunan 10 pabrik gula baru dan rehabilitasi lahan tebu yang sudah ada, baik melalui bongkar ratoon, rawat ratoon, maupun intensifikasi.

Sementara Direktur Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Nurnowo Paridjo menambahkan, untuk perluasan areal tanaman baru, pihaknya sudah mendapat gambaran dari Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. “Kita sudah koordinasi, Pemda sudah menyediakan lahan, tinggal tindak lanjut kesesuaian lahannya,” katanya.

Sedangkan dari sisi peningkat­an produktivitas tanaman, dia mengatakan, strateginya adalah dengan bongkar ratoon dan rawat ratoon. Tahun 2015, target pemerintah  untuk kegiatan ter­sebut seluas 60  ribu ha di wilayah existing tebu yakni Jawa dan beberapa wilayah di Sumatera. 

Diakui, untuk program ter­sebut perlu benih unggul tebu. Namun kini sudah banyak varietas unggul tebu lokal yang adaptif lingkungan, seperti yang dikembangkan PT. Gunung Ma­du Plantation dan Sugar Grup di Lampung. “Varietas tersebut biasanya hasil persilangan varietas lokal dan unggul,” ujarnya. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162