Loading...

Balitbang Pertanian dan Kesehatan Gandeng Tangan Atasi Penyakit Zoonosis

17:14 WIB | Monday, 06-February-2017 | Ternak, Komoditi | Penulis : Julianto

Kepala Balitbangtan, M. Syakir (kiri) dan kepala Balitbangkes, Siswanto menunjukkan MoU dalam penanganan penyakit zoonosis

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) bergandeng tangan dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dalam upaya mengatasi penyakit zoonosis. Kerjasama tersebut ditandai dengan Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) dua lembaga tersebut di gedung Balitbang Pertanian, Jakarta, Senin (6/2).

 

Bahkan kerjasama tersebut langsung ditindaklanjuti MoU antara Balai Besar Veteriner, Bogor dengan Pusat Litbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Kepala Balitbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Siswanto mengatakan, selama ini ada beberapa penyakit hewan yang juga menular ke manusia. Misalnya, flu burung, penyakit demam berdarah, malaria dan zica, terakhir penyakit antraks. “Penyakit-penyakit itu terjadi pada manusia melalui hewan ataupun vektor,” katanya.

 

Untuk mengatasi penyakit-penyakit tersebut Balitbang Kesehatan bekerjasama dengan Balitbang Pertanian melalui konsep one health. Dengan konsep ini penanganan penyakit yang menular dari hewan ke manusia bisa dilakukan secara bersama-sama.

 

Siswanto mencontohkan, kejadian antraks di Kulonprogo juga terkait dengan penyakit zoonosis. Karena itu dalam penanganannya dilakukan penyelidikan epidemologi agar mendapat kepastian benar atau tidak yang diduga. “Jadi jejaring laboratorium menjadi penting,” katanya.

 

Menurutnya, untuk mencegah penyakit zoonosis seperti antraks bisa dengan pemberian vaksin hewan ternak. Selain itu memberikan edukasi kepada peternak mengenai penyakit tersebut.

 

Sementara itu Kepala Balitbang Pertanian, M. Syakir mengatakan, edukasi penyakit zoonosis kepada masyarakat sangat penting. Sebab, jika penanganan salah, maka dapat menyebabkan penularan ke manusia. Lingkungan yang tercemar kuman juga bisa muncul kembali penyakit tersebut (endemis). “Khusus penyakit antraks kta kawal ketat. Ada tim khusus yang memantau perkembangan penyakit tersebut,” ujarnya.

 

Perlu diketahui penyakit antraks merupakan salah satu dari 25 penyakit yang menimbulkan kerugian ekonomi, keresahan masyarakat dan kematian hewan yang tinggi. Menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), antraks merupakan salah satu penyakit yang masuk dalam daftar penyakit penting, terutama terkait dengan importasi dalam perdagangan internasional.

 

Bakteri antraks jika keluar tubuh inang dan segera setelah berhubungan dengan udara bebas atau jatuh ke tanah akan berubang bentuk menjadi spora. Sporan antraks dapat bertahan hidup cukup lama, sehingga dapat menjadi sumber penularan penyakit, baik ke manusia maupun hewan ternak. Saat ini daerah endemis antraks di Indonesia ada 14 propinsi (37 kabupaten/kota). Yul

 

 

 

 

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162