Loading...

Apresiasi Pengurus Kelembagaan Usahatani Tebu: Bukan dengan Menambah Areal Baru untuk Swasembada Gula

14:22 WIB | Monday, 08-July-2013 | Liputan Khusus | Penulis : Ahmad Soim

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) tidak sependapat dengan langkah pemerintah untuk mencapai swasembada gula tahun 2014 di antaranya dengan menambah areal baru seluas 350 ribu ha.  Pada tahun itu, ditargetkan produksi gula sebesar 5,7 juta ton. Sedangkan, produksi gula saat ini ditaksir masih sekitar 2,7 juta ton.

 

“Saya sangat tidak yakin bisa tercapai swasembada gula pada tahun 2014,” kata   Ketua Dewan Pimpinan Nasional APTRI, Drs. Sumitro Samadikun saat berbicara di depan para pengurus kelembagaan usahatani tebu seluruh Indonesia di Cirebon, Jawa Barat (3/7).

 

Meski demikian Sumitro tetap yakin swasembada gula bisa dicapai Indonesia. Hanya saja, cara dan target tahunnya yang dia tidak sependapat.

 

Potensi Indonesia untuk swasembada gula menurutnya sangat besar.  Sumitro Samadikun  mengungkapkan data pada tahun 1929, Indonesia hanya memiliki lahan tebu seluas 200 ribu ha, namun produksinya bisa mencapai 3 juta ton. Waktu itu jumlah pabrik gula (PG)  Indonesia sebanyak 179 buah. Produksi gula rata-rata waktu itu adalah 15 ton/ha.  “Kalau kita sekarang bisa mencapai rata-rata produksi 10 ton gula/ha saja, maka bisa dihasilkan gula 4,5 juta ton,”  tambahnya pada Apresiasi Pengurus Kelembagaan Usahatani Tebu yang diselenggarakan Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian di Cirebon, Jawa Barat.

 

“Jadi bukan buka areal baru, yang dilakukan adalah peningkatan produktivitas dan kualitasnya,” tambah Sumitro. Selain itu, pemerintah perlu melakukan perbaikan infrastruktur terutama jalan dan alat transportasi, peningkatan efisiensi/rendemen di pabrik gula dan jaminan harga.

 

Tanpa upaya itu, Sumitro yakin budidaya tebu dan industri gula dalam negeri akan tergilas oleh gula impor. “Kita harus sudah berpikir pasar bebas Asean tahun 2015”, katanya. Di Batam, ungkapnya gula selundupan hanya dijual Rp 6.500/kg.

 

Di Indonesia, angka harga jual gula serendah itu sulit dicapai karena rendahnya rendemen gula. Menurut hitung-hitungan APTRI bila rendemen gula bisa mencapai 14, maka harga pembelian pemerintah (HPP) gula Indonesia bisa hanya Rp 5.781/kg. Namun karena rendemen gulanya hanya 8 maka APTRI mengusulkan agar HPP gula dinaikkan dari Rp 8.100 menjadi Rp 9.800/kg. Namun pemerintah tidak mengabulkan. Padahal prakteknya rendemen gula milik petani hanya berkisar 7, harusnya HPP-nya Rp 10.447/kg gula. Dengan kondisi seperti itu, menurut Sumitro kalau luas areal ditambah tetapi tanpa dengan upaya peningkatan pendapatan, habis kita. “Maka ini adalah fungsi kelembagaan kita,  perlu dijaga,” tuturnya.

 

 

 

Siapa Bilang Tidak Enak

 

Slamet pengurus APTRI Jawa Timur mengatakan dengan adanya organisasi tebu tahun 1994 di Malang, kalau kita jujur-jujuran petani tebu itu diiri sama orang PG.  “Lelang hari Senin, setiap hari Selasa, kita ambil uang dan bawa pulang uang satu tas kresek hitam. Siapa bilang jadi petani tebu tidak enak,” kata Slamet yang mengelola kebun tebu seluas 100 ha di Malang. Petani tebu ibaratnya berbekal pada keterampilan budidaya dan modal sewa lahan, segala sesuatunya dipinjami atau ditalangi PG. Itupun masih pulang bawa gula. 

 

Tapi terus terang di akhir-akhir semakin lama  semakin turun pendapatannya dari berkebun tebu. Slamet mulai melirik tanam padi. Saya punya 6,2 ha sawah padi. “Saya rasa lebih enak tanam padi, gabah kering sawah (GKS) laku  Rp 4.000/kg,” tambahnya.

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162